Cara kami menikmati malam
Rabu 10:59 waktu ketika
aku menuliskan ini. Duduk diatas tikar berukuran kurang lebih 2x3 m. Bintang
malam menemani kami santri santri Gilau Bukan
Galau, yang tidak punya kerjaan diluar
kerjaan kami menuntut ilmu.
Malam begitu cerah dan
bersahabatnya malam ini. Dengan bintang-bintang bertaburan di langit yang Nampak
biru tua dengan diberi sedikit manic-manik surga. Kumpulan kapas lembut
berterbangan diatas kepalaku seakan-akan mengangkut penumpang dari timur. Angin
begitu bersahabat malam ini, karena kami berada diluar kamar. Berbeda jika kami
ada didalam kamar, suasananya mungkin akan berbeda. Karena bersahabat dengan angin
hanya kami trasakan di luar, di dalam kami bertarung dengan sumuknya udara
jogja.
Sekarang kami ada di
alam bebas versi Gilau para santri. Dikanan kami sudah tersedia nyala api yang
dibakar tadi sore. Asapnya masih menemani dan menjadi musuh para penjahat kecil
yang berdengung di telinga. Sisa
potongan pohon berukuran besar yang baru saja di tebang beberapa minggu lalu
menumpuk dan menghimpit kami diantaranya. Menambah kesan liar yang kami dapat mala
mini.
“Sambil nonton film yuk”
saran dari joko, pemilik kata Gilau.
“Ya Boleh saya punya
film bagus yang baru saya kopi tadi dati teman”
“Ya sudah ambil Roll
kabel untuk mengaliri listrik sampai luar”
Kamarkami berjarak
sekitar 2-3 meter dari tempat kami duduk saat ini. Segera aku mengumpulkan roll
yang bisa aku pinjam paksa dari kamar-kamar lain dan singkat cerita
terhubunglah listrik dengan dunia perklemahan malam ini.
Film telah diputar kami
menikmati dengan khusu’. Film ini
menggambarkan realita pendidikan oarng tua kepada anaknya. Maklum kami sebagi
calon orang tua, harus mempu menyerap setiap makna yang tersirat dari film ini.
Menangis! Diantara kami hanya ada yang terharu bukan menangis gara-gara film
yang diputarkan. Secangkir teh hangat menemani malam ini, manambah hangat dan
manisnya kebersamaan yang langka ini. Indahnya malam ini.
Dua jam berlalu film
telah usai, diskusi dimulai, bahasan ngalor
ngidul nda jelas menjadi inti diskusi ini. Namun semua tertawa semua
tesenyum. Seakan memang tak ada beban yang dihadapi.
Ujungnya ide PKM yang
kemudian kami bahas. Ide spontan yang muncul ditengah malam sunyi milik semua
ini. Kami berujung pada pembahasan PKM di tengah kantuk meraja.
“Awas besok nda ada
yang bangunin solat subuh baru tau rasa kalian” Az mengingatkan kami.
“Iya saudara heheh” Aku menjawab.
The hangat telah habis
maka waktu kami pun habis. Kami melipat kembali tikar dan mulai kembali kekamar
masing-masing membawa ide-ide cemerlang. Kami segerapergi karena kami ingat Ust
Roma Irama mengatakan “Bergadang jangan Bergadang kalo tiada Artinya” heheh.
Posting Komentar untuk "Cara kami menikmati malam"